Suara yang Tumbuh dari Diam
Puisi tentang keresahan mahasiswa, keberanian menyampaikan pendapat, dan tanggung jawab intelektual dalam kehidupan sosial.
Aku pernah belajar diam
di ruangan yang penuh suara,
menyimpan pertanyaan di balik buku,
menelan pendapat agar tak dianggap berbeda.
Katanya, waktu akan mengajarkan kedewasaan.
Katanya, tak semua hal perlu dipersoalkan.
Maka aku tumbuh dengan banyak pertanyaan,
tetapi sedikit keberanian untuk mengucapkan.
Di lorong kampus yang panjang,
kulihat mimpi berjalan beriringan dengan ketakutan.
Ada yang ingin mengubah dunia,
ada yang sekadar ingin didengar,
ada pula yang lelah sebelum sempat memulai.
Kita duduk bersama membicarakan keadilan,
mengutip pemikiran dari halaman-halaman tua,
lalu pulang melewati orang-orang
yang tak pernah masuk ke dalam percakapan kita.
Lalu aku bertanya kepada diri sendiri:
untuk siapa sebenarnya pengetahuan ini?
Jika ia hanya tinggal di kepala,
jika ia hanya menjadi hiasan dalam diskusi,
jika ia tak pernah menyentuh kehidupan siapa pun.
Barangkali suara tak harus selalu lantang.
Ia bisa tumbuh dari tulisan sederhana,
dari keberanian mengakui kesalahan,
dari kesediaan mendengar mereka yang berbeda,
atau dari tangan yang memilih membantu
ketika dunia sibuk saling menyalahkan.
Aku tak ingin menjadi suara yang paling tinggi.
Aku hanya ingin menjadi suara yang jujur,
yang tak menjual kebenaran demi tepuk tangan,
yang tak menggadaikan nurani demi kenyamanan.
Sebab diam pun memiliki banyak arti:
kadang ia adalah jeda untuk memahami,
kadang ia adalah ruang untuk mendengarkan,
tetapi kadang pula ia menjadi tempat
ketidakadilan bersembunyi terlalu lama.
Maka hari ini,
biarkan pertanyaan-pertanyaan itu menemukan jalan.
Biarkan kata-kata menjelma keberanian,
dan keberanian menjelma tindakan.
Aku mungkin bukan siapa-siapa,
hanya satu suara di antara jutaan suara.
Namun, bukankah perubahan sering bermula
dari seseorang yang akhirnya memilih bicara?
Dan jika esok suaraku kembali bergetar,
akan kuingat satu hal yang sederhana:
bahwa menjadi manusia terpelajar
bukan sekadar mampu membaca dunia,
melainkan berani mengambil bagian
dalam upaya membuatnya lebih bermakna.