Kota yang Lupa Mendengar

Puisi prosa tentang kehidupan kota, suara-suara yang terabaikan, dan pentingnya mendengarkan sesama manusia.

Oleh Admin
3x dilihat
Bagikan
Kota yang Lupa Mendengar
Ilustrasi suasana kota dengan manusia yang berjalan di tengah kesibukan.

Kota ini selalu terburu-buru.

Pagi datang bersama deru kendaraan, langkah kaki yang berkejaran, dan wajah-wajah yang menunduk menatap layar. Semua orang tampak sedang menuju sesuatu. Mengejar waktu, mengejar angka, mengejar hidup yang katanya harus terus bergerak maju.

Di antara gedung-gedung yang meninggi, ada seorang tua yang duduk di trotoar. Tangannya keriput, matanya teduh, dan di hadapannya terhampar beberapa buku bekas yang tak banyak dilirik orang. Ia menawarkan cerita-cerita lama kepada mereka yang tak punya waktu untuk berhenti.

Tak jauh darinya, seorang anak kecil menggambar matahari di atas kardus. Mataharinya berwarna ungu, langitnya hijau, dan rumahnya tak memiliki pintu. Ketika seseorang bertanya mengapa, ia hanya tersenyum dan berkata, “Supaya semua orang bisa masuk.”

Namun, tak seorang pun benar-benar mendengarkan.

Kota ini terlalu sibuk memberi nama pada keberhasilan. Ia mengukur manusia dari apa yang dikenakan, dari seberapa tinggi tempatnya berdiri, dan dari berapa banyak orang yang mengenalnya. Sementara itu, cerita-cerita sederhana perlahan menghilang di sela kebisingan.

Aku pernah menjadi bagian dari keramaian itu. Berjalan cepat, berbicara lantang, dan mengira bahwa memahami dunia berarti mengetahui banyak hal. Sampai suatu hari, seorang asing bercerita tentang rumahnya yang terendam banjir. Ia tidak meminta belas kasihan. Ia hanya ingin seseorang mendengarkan sampai kalimat terakhirnya selesai.

Hari itu aku belajar bahwa mendengar bukan sekadar membiarkan suara masuk ke telinga. Mendengar adalah memberi ruang bagi kehidupan orang lain untuk hadir di dalam pikiran kita. Tanpa buru-buru menghakimi. Tanpa sibuk mencari jawaban. Tanpa mengubah kesedihan seseorang menjadi sekadar angka dalam sebuah laporan.

Sejak itu, aku mulai berjalan lebih pelan.

Aku menyapa penjaga warung yang selalu membuka tokonya sebelum matahari terbit. Aku mendengarkan mahasiswa yang ragu pada masa depannya. Aku memperhatikan wajah-wajah yang selama ini hanya kulewati sebagai bagian dari pemandangan kota.

Ternyata dunia menyimpan begitu banyak cerita yang tidak pernah masuk ke halaman utama berita. Ada perjuangan yang berlangsung tanpa tepuk tangan. Ada kebaikan yang dilakukan tanpa kamera. Ada kesedihan yang disembunyikan di balik kalimat, “Tidak apa-apa.”

Mungkin kota ini tidak benar-benar kehilangan suara. Mungkin kitalah yang perlahan kehilangan kesediaan untuk mendengarnya.

Dan jika suatu hari kota ini kembali sunyi, semoga kita tidak hanya mendengar gema langkah sendiri. Semoga kita masih mampu mengenali suara orang lain—mereka yang selama ini berdiri di samping kita, membawa cerita yang sama berharganya dengan cerita siapa pun.

Sebab, sebuah kota tidak hanya dibangun dari beton dan jalan raya.

Ia juga dibangun dari manusia yang bersedia saling mendengarkan.


Sastra Terkait

20 Oktober 2026

Suara yang Tumbuh dari Diam

Oleh Admin

20 Oktober 2026

Di Persimpangan Mimpi

Oleh Admin

20 Oktober 2026

Surat yang Tak Pernah Dikirim

Oleh Admin

19 Oktober 2026

Di Antara Halaman dan Kehidupan

Oleh Admin