SEMAR (SMART CIRCULAR ECONOMY MANAGEMENT AND RECYCLING): PLATFORM EKONOMI SIRKULAR BERBASIS ARTIFICIAL INTELLIGENCE UNTUK MENGURANGI TIMBULAN SAMPAH DI TPA JATIBARANG KOTA SEMARANG
ARIF FAUZI HIDAYAT UNIVERSITAS AIRLANGGA
PENDAHULUAN
Transformasi menuju kota berkelanjutan menuntut sistem pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada pembuangan, tetapi juga mampu menciptakan nilai ekonomi dan menjaga keberlanjutan lingkungan. Namun, peningkatan jumlah penduduk, urbanisasi, dan perubahan pola konsumsi menyebabkan timbulan sampah terus mengalami kenaikan setiap tahun. World Bank memproyeksikan bahwa timbulan sampah global akan meningkat dari 2,01 miliar ton pada 2016 menjadi 3,40 miliar ton pada 2050 apabila tidak diimbangi dengan transformasi sistem pengelolaan yang lebih berkelanjutan (Kaza et al., 2018). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa paradigma kumpul–angkut–buang (collect–transport–dispose) tidak lagi memadai karena berorientasi pada penanganan di hilir, bukan pengurangan sampah sejak dari sumber sesuai prinsip ekonomi sirkular (Kirchherr et al., 2018).
Permasalahan tersebut turut menjadi tantangan bagi Kota Semarang, yang seluruh timbulan sampahnya bermuara di TPA Jatibarang. Sebagai satu-satunya TPA aktif, kawasan ini menghadapi tekanan akibat tingginya volume sampah. Pada periode Lebaran 2026, DLH Kota Semarang mencatat timbulan sampah mencapai sekitar 1.090 ton per hari, bahkan melampaui 1.000 ton per hari selama beberapa hari berturut-turut (Media Jateng, 2026). Kondisi ini diperparah dengan transisi menuju sistem controlled landfill sebagai pengganti open dumping (RRI, 2026). Selain itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melaporkan bahwa TPA Jatibarang telah mengalami overload, sehingga pengurangan timbulan sampah sejak dari sumber menjadi kebutuhan mendesak (Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, 2026).
Berbagai kebijakan, seperti pengembangan bank sampah, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), hingga rencana Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), menunjukkan komitmen pemerintah dalam memperbaiki tata kelola persampahan. Namun, peningkatan volume sampah yang terus membebani TPA Jatibarang menunjukkan bahwa upaya tersebut belum sepenuhnya efektif. Menurut penulis, kondisi ini terjadi karena belum terbangunnya sistem yang
mampu mendorong masyarakat memilah sampah sejak dari sumber sekaligus menghubungkannya dengan ekonomi sirkular. Oleh karena itu, diperlukan transformasi digital yang mampu mengubah perilaku masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Berdasarkan kondisi tersebut, penulis menawarkan inovasi yaitu SEMAR (Smart Circular Economy Management and Recycling), sebuah Platform Smart Circular Economy berbasis Artificial Intelligence yang mengintegrasikan masyarakat, bank sampah, industri daur ulang, pelaku UMKM, dan pemerintah dalam satu ekosistem pengelolaan sampah berbasis data. Melalui teknologi klasifikasi sampah otomatis, marketplace material daur ulang, sistem insentif digital, serta Dashboard Pengelolaan berbasis AI, SEMAR tidak hanya mendorong pengurangan timbulan sampah menuju TPA Jatibarang, tetapi juga memperkuat ekonomi sirkular, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta mendukung terwujudnya Smart Circular City di Kota Semarang.
PEMBAHASAN
SEMAR (Smart Circular Economy Management and Recycling) merupakan platform Smart Circular Economy berbasis Artificial Intelligence yang dirancang untuk mentransformasi pengelolaan sampah Kota Semarang dari pendekatan collect–transport–dispose menjadi reduce–sort–recycle–reward. Nama SEMAR diadaptasi dari tokoh pewayangan Jawa yang melambangkan kebijaksanaan dan kepedulian terhadap masyarakat, sehingga merepresentasikan semangat kolaboratif dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Berbeda dengan sistem konvensional yang berfokus pada pengangkutan sampah menuju TPA, SEMAR mengedepankan pengurangan timbulan sampah sejak dari sumber melalui integrasi teknologi digital, ekonomi sirkular, dan tata kelola berbasis data. Dengan demikian, material yang masih memiliki nilai ekonomi tidak lagi berakhir di TPA Jatibarang, tetapi kembali dimanfaatkan sebagai sumber daya melalui rantai ekonomi sirkular.
SEMAR memanfaatkan teknologi computer vision, machine learning, dan AI-based waste classification untuk mengidentifikasi jenis material sampah secara otomatis melalui kamera telepon pintar. Sistem AI menganalisis karakteristik material, mengelompokkan kategori sampah, memperkirakan nilai ekonomi, serta memberikan rekomendasi pengelolaan dan lokasi bank sampah atau mitra daur ulang terdekat. Selain meningkatkan akurasi pemilahan sampah, AI juga mendukung Dashboard Pengelolaan yang mampu menyajikan analisis real-time mengenai volume sampah, pola partisipasi masyarakat, serta wilayah penyumbang timbulan sampah terbesar. Informasi tersebut menjadi dasar bagi Pemerintah Kota Semarang dalam menyusun kebijakan pengelolaan sampah yang lebih adaptif dan berbasis data (Kristoffersen et al., 2020).

Gambar 1. Desain Software SEMAR.
SEMAR menghadirkan tiga kelompok fitur yang saling terintegrasi. Pada halaman Beranda, tersedia fitur Pindai Sampah, Jual Sampah, Jemput Sampah, dan Peta Resik. Fitur Pindai Sampah memanfaatkan AI untuk mengidentifikasi jenis material sekaligus merekomendasikan pengelolaannya, sedangkan Jual Sampah menghubungkan pengguna dengan bank sampah, UMKM, dan industri daur ulang melalui marketplace digital. Jemput Sampah memfasilitasi layanan penjemputan, sementara Peta Resik menampilkan lokasi bank sampah dan TPS3R berbasis GPS. Halaman Manfaat menyediakan Poin Hijau, Jejak Karbon, Riwayat Transaksi, dan Tantangan Resik sebagai sistem insentif. Adapun halaman Edukasi dan Pengelolaan memuat artikel, video, panduan, Tanya Semar, kategori sampah, jadwal pengelolaan, serta laporan dan statistik guna meningkatkan literasi dan pengelolaan sampah berkelanjutan.

Gambar 2. Konsep Kolaborasi Hexahelix.
Implementasi SEMAR menerapkan pendekatan hexahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, industri, komunitas, media, dan masyarakat. Akademisi berperan mengembangkan algoritma AI dan mengevaluasi performa sistem, pemerintah menyediakan regulasi serta integrasi data pengelolaan sampah, sedangkan bank sampah, UMKM, dan industri daur ulang menjadi mitra utama dalam penyerapan material hasil pemilahan. Media dan komunitas lingkungan mendukung edukasi serta kampanye perubahan perilaku, sementara masyarakat menjadi aktor utama dalam melakukan pemilahan sampah sejak dari sumber. Kolaborasi tersebut membentuk ekosistem closed-loop circular economy yang memastikan sampah tidak berhenti di tempat pemrosesan akhir, tetapi kembali menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi.

Gambar 3. Tahapan Implementasi SEMAR.
Strategi implementasi SEMAR dilakukan melalui lima tahapan, yaitu persiapan, perencanaan, implementasi, evaluasi, dan finalisasi. Tahap persiapan mencakup identifikasi permasalahan di TPA Jatibarang dan analisis kebutuhan pengguna. Selanjutnya, tahap perencanaan berfokus pada pengembangan sistem AI serta kemitraan dengan pemerintah, bank sampah, dan UMKM. Tahap implementasi dilakukan melalui uji coba aplikasi, kemudian dievaluasi berdasarkan akurasi AI, partisipasi masyarakat, dan pengurangan timbulan sampah menuju TPA. Tahap finalisasi meliputi penyempurnaan sistem dan perluasan implementasi sehingga SEMAR siap diterapkan secara berkelanjutan sebagai model Smart Circular Economy yang mendukung SDGs 11, SDGs 12, dan SDGs 13.
Keunggulan utama SEMAR terletak pada integrasi Artificial Intelligence, ekonomi sirkular, dan kolaborasi multipihak dalam satu platform digital yang mendukung pemilahan, transaksi, serta analisis data pengelolaan sampah bagi pemerintah. Pendekatan ini menjadikan SEMAR lebih komprehensif dibanding sistem konvensional yang berfokus pada pengangkutan dan pembuangan. Tantangan berupa literasi digital, keterbatasan infrastruktur bank sampah, dan pembaruan model AI dapat diatasi melalui edukasi, penguatan kemitraan, serta pengembangan sistem secara bertahap. Dengan demikian, SEMAR berpotensi menjadi model pengelolaan sampah digital yang adaptif dan dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.
PENUTUP
Peningkatan timbulan sampah di TPA Jatibarang menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak lagi dapat bergantung pada pendekatan konvensional yang berorientasi pada pengangkutan dan pembuangan. Diperlukan transformasi menuju sistem yang lebih cerdas, berkelanjutan, dan berorientasi pada ekonomi sirkular melalui pemanfaatan teknologi digital serta kolaborasi multipihak. Atas dasar tersebut, SEMAR (Smart Circular Economy Management and Recycling) dihadirkan sebagai platform berbasis Artificial Intelligence yang
mengintegrasikan masyarakat, pemerintah, bank sampah, UMKM, industri daur ulang, dan akademisi dalam satu ekosistem pengelolaan sampah yang terintegrasi.
Melalui teknologi AI-Based Waste Classification, marketplace material daur ulang, sistem insentif digital, serta dashboard analitik berbasis data, SEMAR tidak hanya mampu mengurangi timbulan sampah menuju TPA Jatibarang, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat, meningkatkan nilai ekonomi material daur ulang, dan mendukung pengambilan kebijakan yang lebih tepat sasaran. Dengan implementasi yang terukur, kolaboratif, dan berkelanjutan, SEMAR berpotensi menjadi model Smart Circular Economy yang adaptif, aplikatif, dan layak direplikasi di berbagai daerah di Indonesia sebagai langkah strategis dalam mewujudkan Smart Circular City serta berkontribusi terhadap pencapaian SDGs 11 (Sustainable Cities and Communities), SDGs 12 (Responsible Consumption and Production), dan SDGs 13 (Climate Action).
DAFTAR PUSTAKA
Kaza, S., Yao, L., Bhada-Tata, P., & Van Woerden, F. (2018). What a waste 2.0: A global snapshot of solid waste management to 2050. World Bank.
Kirchherr, J., Reike, D., & Hekkert, M. (2018). Conceptualizing the circular economy: An analysis of 114 definitions. Resources, Conservation and Recycling, 127, 221–232.
Kristoffersen, E., Blomsma, F., Mikalef, P., & Li, J. (2020). The smart circular economy: A digital-enabled circular strategies framework for manufacturing companies. Journal of Business Research, 120, 241–261.
Media Jateng. (2026, April). DLH mencatat lonjakan sampah Lebaran 2026 di Semarang tembus 1.090 ton per hari.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. (2026). LaporGub!: Detail aduan LGMB07562807 mengenai kondisi TPA Jatibarang.
Purwanti, I. F. (2021). Konsep pengelolaan sampah berkelanjutan melalui pendekatan ekonomi sirkular. Jurnal Teknik ITS, 10(2), A156–A161.
Rifai, A., Wibowo, M. A., & Nugroho, S. (2022). Transformasi digital dalam pengelolaan sampah berbasis bank sampah menuju ekonomi sirkular di Indonesia. Jurnal Wilayah dan Lingkungan, 10(3), 221–236.
Radio Republik Indonesia. (2026, Mei). Pemkot Semarang percepat penghentian open dumping di TPA Jatibarang.
PROFIL PENULIS
Arif Fauzi Hidayat merupakan mahasiswa Program Studi Teknik Biomedis, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga. Penulis memiliki ketertarikan pada bidang penelitian dan pengembangan teknologi, khususnya Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), Computer Vision, serta penerapannya dalam bidang kesehatan dan lingkungan. Selain aktif dalam organisasi kemahasiswaan, penulis juga mengikuti berbagai kompetisi dan kegiatan ilmiah sebagai bentuk pengembangan kompetensi di bidang riset, inovasi, dan teknologi berkelanjutan.