DI BALIK GUNUNGAN SAMPAH JATIBARANG: MODEL JATI (JARINGAN EKONOMI SIRKULAR TERINTEGRASI) BERBASIS MASYARAKAT UNTUK MENEKAN TIMBULAN SAMPAH MENUJU SEMARANG BERKELANJUTAN
Muhammad Ilham UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
PENDAHULUAN
Latar Belakang
"Waste is a design flaw."
— Ellen MacArthur Foundation —
Kutipan tersebut menegaskan bahwa persoalan sampah bukan sekadar akibat meningkatnya konsumsi masyarakat, melainkan cerminan dari sistem pengelolaan yang belum mampu mempertahankan nilai sumber daya dalam siklus pemanfaatan. Sejalan dengan itu, Bappenas (2021) menjelaskan bahwa ekonomi sirkular merupakan pendekatan pembangunan yang mendorong efisiensi sumber daya melalui pengurangan limbah, penggunaan kembali, dan daur ulang. Paradigma ini semakin relevan bagi Kota Semarang yang terus berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah, tetapi masih menghadapi peningkatan timbulan sampah yang membebani Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang.
Di balik perannya sebagai infrastruktur utama persampahan, TPA Jatibarang merepresentasikan paradoks pengelolaan sampah di Kota Semarang. Di satu sisi, pembangunan kota mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi di sisi lain pengelolaan sampah masih didominasi pola kumpul–angkut–buang, sehingga sebagian besar sampah berakhir di TPA. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama bukan hanya keterbatasan daya tampung TPA, melainkan belum optimalnya transformasi tata kelola persampahan menuju sistem yang lebih sirkular (Bappenas, 2021).
Berdasarkan kondisi tersebut, esai ini menawarkan Model JATI (Jaringan Ekonomi Sirkular Terintegrasi) sebagai gagasan transformasi pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui penguatan pemilahan dari sumber, integrasi bank sampah, TPS3R, UMKM daur ulang, serta kolaborasi pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat. Model ini diharapkan mampu menekan timbulan sampah yang berakhir di TPA Jatibarang sekaligus mewujudkan sistem pengelolaan persampahan yang lebih berkelanjutan bagi Kota Semarang.
PEMBAHASAN
Persoalan persampahan di Kota Semarang terus menjadi tantangan seiring meningkatnya aktivitas ekonomi, pertumbuhan penduduk, dan urbanisasi. Berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) KLHK, timbulan sampah Kota Semarang mencapai ratusan ribu ton per tahun dengan sebagian besar masih bergantung pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang sebagai tujuan akhir pengelolaan. Meskipun berbagai upaya seperti pengembangan bank sampah, TPS3R, dan program pengurangan sampah telah dilakukan, laju timbulan sampah yang terus meningkat menunjukkan bahwa pendekatan pengelolaan yang ada belum sepenuhnya mampu mengimbangi dinamika produksi sampah perkotaan (KLHK, 2024; BPS Kota Semarang, 2025).
Tabel 1. Kondisi Pengelolaan Sampah Kota Semarang Tahun 2024
|
Indikator |
Nilai |
Sumber |
|
Timbulan sampah |
434.243,97 ton/tahun |
SIPSN KLHK |
|
Sampah terkelola |
309.809,86 ton/tahun (71,34%) |
SIPSN KLHK |
|
Pengurangan sampah |
120.152,30 ton/tahun (27,66%) |
SIPSN KLHK |
|
Lokasi TPA utama |
TPA Jatibarang |
DLH Kota Semarang |
Sumber: SIPSN KLHK dalam Peraturan Wali Kota Semarang Tahun 2025.
Meningkatnya timbulan sampah menunjukkan bahwa persoalan persampahan di Kota Semarang tidak hanya disebabkan oleh tingginya produksi sampah, tetapi juga paradigma pengelolaan yang masih berorientasi pada sistem kumpul–angkut–buang. Pola ini menjadikan TPA Jatibarang sebagai titik akhir, sementara pemilahan dan pemanfaatan kembali sampah dari sumber belum menjadi budaya masyarakat. Akibatnya, pengelolaan yang ada hanya bersifat jangka pendek, sedangkan timbulan sampah terus meningkat setiap tahun. Paradoks ini menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan sampah tidak diukur dari banyaknya sampah yang diangkut, melainkan dari kemampuan mengurangi sampah sebelum mencapai TPA (Bappenas, 2021; Ellen MacArthur Foundation, 2019).

Gambar 1. Paradigma Pengelolaan Sampah Linear dan Paradigma Ekonomi Sirkular
Sumber: Diolah oleh penulis (2026), dari SIPSN, DLH Kota Semarang (2024)
Perbandingan pada Gambar 1 menunjukkan bahwa akar persoalan persampahan di Kota Semarang tidak hanya terletak pada besarnya volume sampah, tetapi juga pada pola pengelolaan yang masih bersifat linear. Dalam sistem tersebut, sebagian besar sampah berakhir di TPA Jatibarang tanpa melalui proses pemanfaatan yang optimal. Sebaliknya, pendekatan ekonomi sirkular menempatkan sampah sebagai sumber daya yang dapat dipilah, diolah, dan dimanfaatkan kembali sehingga mampu mengurangi timbulan sampah sejak dari sumber. Oleh karena itu, diperlukan suatu model pengelolaan yang mampu mengintegrasikan seluruh pemangku kepentingan dalam satu ekosistem yang berkelanjutan. Atas dasar kebutuhan tersebut, penulis menawarkan Model JATI sebagai gagasan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Model JATI (Jaringan Ekonomi Sirkular Terintegrasi)
Sumber: Diolah oleh Penulis (2026)
Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 2, Model JATI dibangun melalui enam tahapan yang saling terhubung dalam satu ekosistem pengelolaan sampah. Proses diawali dari masyarakat yang melakukan pemilahan sejak dari sumber. Sampah yang telah dipilah kemudian dikelola melalui bank sampah dan TPS3R sebagai pusat pengumpulan serta pengolahan awal sebelum disalurkan kepada UMKM dan industri daur ulang. Material yang masih memiliki nilai guna diolah menjadi produk bernilai ekonomi sehingga memperpanjang siklus pemanfaatannya. Sementara itu, hanya residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali yang dikirim ke TPA Jatibarang. Melalui mekanisme tersebut, Model JATI tidak hanya berorientasi pada pengurangan timbulan sampah, tetapi juga mendorong terciptanya nilai ekonomi, memperkuat partisipasi masyarakat, dan mengurangi
ketergantungan terhadap TPA sebagai tujuan akhir pengelolaan sampah (Bappenas, 2021; Ellen MacArthur Foundation, 2019).
Implementasi Model JATI memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar setiap tahapan berjalan berkelanjutan. Pemerintah Kota Semarang berperan memperkuat regulasi, memperluas bank sampah dan TPS3R, serta memberikan insentif bagi masyarakat dan pelaku usaha. Masyarakat menjadi aktor utama melalui pemilahan sampah dari sumber, sementara UMKM dan industri daur ulang mengolah material menjadi produk bernilai ekonomi. Perguruan tinggi berkontribusi melalui riset dan pendampingan, sedangkan sektor swasta mendukung pengembangan pasar produk daur ulang melalui kemitraan. Sinergi tersebut menjadikan Model JATI sebagai ekosistem kolaboratif yang mampu mengurangi ketergantungan terhadap TPA Jatibarang sekaligus memperkuat penerapan ekonomi sirkular di Kota Semarang.
Penerapan Model JATI tidak hanya berkontribusi dalam menekan timbulan sampah yang berakhir di TPA Jatibarang, tetapi juga memberikan manfaat lingkungan, ekonomi, dan sosial secara bersamaan. Berkurangnya residu akan memperpanjang usia layanan TPA dan mengurangi risiko pencemaran, sementara meningkatnya aktivitas daur ulang mampu menciptakan peluang usaha, lapangan kerja hijau, serta nilai tambah bagi masyarakat. Lebih dari itu, budaya memilah sampah sejak dari sumber akan membentuk kesadaran kolektif bahwa sampah bukan lagi limbah yang harus dibuang, melainkan sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.
PENUTUP
Kesimpulan dan Saran
Persoalan sampah di Kota Semarang memerlukan perubahan paradigma dari sistem kumpul–angkut–buang menuju pengelolaan berbasis ekonomi sirkular. Melalui Model JATI (Jaringan Ekonomi Sirkular Terintegrasi), pengelolaan sampah diarahkan menjadi lebih kolaboratif dengan melibatkan masyarakat,
pemerintah, perguruan tinggi, serta dunia usaha mengurangi timbulan sampah sejak dari sumber.
Penulis merekomendasikan beberapa langkah strategis, yaitu:
- Pemerintah Kota Semarang memperkuat bank sampah dan TPS3R serta memberikan insentif bagi masyarakat yang melakukan pemilahan sampah.
- Perguruan tinggi dan komunitas mengembangkan edukasi serta pendampingan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
- UMKM dan industri daur ulang memperluas pemanfaatan material hasil pemilahan agar memiliki nilai ekonomi.
Melalui langkah tersebut, Model JATI diharapkan mampu menekan timbulan sampah di TPA Jatibarang sekaligus mendukung terwujudnya Kota Semarang yang bersih dan berkelanjutan.
PROFIL PENULIS
Muhammad Ilham merupakan mahasiswa Program Studi D4 Administrasi Perkantoran Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Jakarta. Aktif dalam Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI) serta memiliki ketertarikan pada isu kebijakan publik, pembangunan berkelanjutan, dan inovasi sosial. Melalui berbagai kompetisi esai dan karya tulis ilmiah, penulis berupaya menghadirkan gagasan yang solutif terhadap berbagai persoalan pembangunan.