:Tuhan Siapa yang Menolong?" DEMA FUHUM dan Santrendelik Hadirkan Dialog Lintas Iman dalam September Hitam
Diskusi Lintas Agama dalam Memperingati September Hitam
SEMARANG — Di tengah perbedaan cara manusia memahami Tuhan, pertanyaan tentang kemanusiaan menjadi titik temu yang melampaui batas keyakinan. Berangkat dari refleksi tersebut, Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (DEMA FUHUM) UIN Walisongo Semarang berkolaborasi dengan Santrendelik menyelenggarakan Nongkrong Tobat Spesial: Tuhan Siapa yang Menolong? pada Kamis, 24 September 2026, di Santrendelik, Sukorejo, Gunungpati, Semarang.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian refleksi September Hitam 2026, sebuah momentum untuk mengenang berbagai peristiwa kekerasan dan pelanggaran kemanusiaan sekaligus membuka ruang percakapan kritis mengenai kondisi sosial dan kebangsaan. Melalui dialog lintas iman, DEMA FUHUM dan Santrendelik mengajak masyarakat melihat kemanusiaan sebagai ruang perjumpaan yang memungkinkan orang-orang dengan latar belakang keyakinan berbeda untuk saling mendengarkan dan memahami.
Mengusung judul “Tuhan Siapa yang Menolong?”, forum ini berangkat dari pertanyaan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: ketika seseorang tertimpa musibah, kehilangan tempat tinggal, atau sedang berduka, siapa yang hadir memberikan pertolongan? Apakah kepedulian harus dibatasi oleh kesamaan agama, atau justru dapat tumbuh dari kesadaran bahwa setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk membantu sesamanya?
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan hubungan antara keyakinan, pertolongan, dan solidaritas kemanusiaan. Dalam situasi ketika seseorang membutuhkan bantuan, kehadiran orang lain sering kali menjadi hal yang paling mendasar. Perbedaan keyakinan tidak semestinya menjadi penghalang bagi tumbuhnya empati dan tindakan nyata untuk meringankan penderitaan.
Dialog ini menghadirkan enam perspektif agama melalui Lukito dari Konghucu, Putu Adhi Sutrisna dari Hindu, Bhikkuni Thitacarini Theri dari Buddha, Pendeta Yermia Suprayitno dari Kristen Protestan, Raden Antony Dedy Septiadi dari Katolik, serta Ustadz Fakhruddin Aziz dari Islam. Keragaman latar belakang tersebut menghadirkan ruang bagi peserta untuk mengenali cara pandang yang berbeda mengenai Tuhan dan tanggung jawab manusia terhadap sesamanya.
Alih-alih menempatkan perbedaan sebagai sesuatu yang harus dipertentangkan, forum ini membuka kesempatan untuk mendengarkan bagaimana masing-masing tradisi keagamaan memahami pertolongan, kepedulian, dan hubungan antarmanusia. Dialog lintas iman menjadi penting bukan untuk menghapus perbedaan teologis, melainkan untuk membangun pemahaman bersama mengenai nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks September Hitam, percakapan tersebut memperoleh makna yang lebih luas. Mengenang peristiwa kekerasan tidak cukup dilakukan melalui pengulangan catatan sejarah, tetapi juga perlu disertai refleksi mengenai bagaimana masyarakat merespons penderitaan, membangun solidaritas, dan mencegah kekerasan serupa terulang. Ingatan terhadap korban semestinya mendorong keberanian untuk berpihak pada kemanusiaan, tanpa menjadikan identitas sebagai alasan untuk membatasi kepedulian.
Kolaborasi DEMA FUHUM dan Santrendelik menghadirkan pendekatan dialog yang mempertemukan refleksi keagamaan dengan persoalan sosial. Melalui ruang percakapan yang terbuka, kegiatan ini mendorong peserta untuk tidak hanya memahami keyakinan masing-masing, tetapi juga mengembangkan kesediaan untuk mendengarkan pengalaman dan pandangan orang lain.
Bagi DEMA FUHUM, dialog lintas iman menjadi ruang pembelajaran yang relevan dengan upaya membangun kehidupan akademik yang kritis, terbuka, dan berorientasi pada kemanusiaan. Perbedaan perspektif dapat menjadi sumber pengetahuan ketika disertai kesediaan untuk berdialog, sementara keyakinan keagamaan dapat menemukan relevansi sosialnya melalui tindakan yang menghormati martabat manusia.
Pertanyaan “Tuhan Siapa yang Menolong?” pada akhirnya tidak hanya mengajak peserta memikirkan bagaimana agama memaknai pertolongan, tetapi juga merefleksikan posisi manusia sebagai pihak yang dapat menghadirkan pertolongan bagi sesamanya. Di tengah berbagai perbedaan, kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana: mengulurkan tangan, menemani mereka yang berduka, dan hadir bagi mereka yang membutuhkan.
Melalui Nongkrong Tobat Spesial dalam rangka September Hitam 2026, DEMA FUHUM dan Santrendelik menghadirkan ruang perjumpaan yang menempatkan dialog sebagai jalan untuk merawat solidaritas. Sebuah pengingat bahwa perbedaan keyakinan tidak harus berakhir pada jarak, dan bahwa upaya menjaga kemanusiaan selalu membutuhkan kesediaan untuk saling mendengarkan serta menolong.
Sebab, di hadapan penderitaan manusia, pertanyaan yang paling mendesak bukanlah siapa yang memiliki keyakinan berbeda, melainkan siapa yang bersedia hadir untuk menolong.