Opening Humanity Festival & Aksi Reaksi

Refleksi Aceh Menolak Lupa

Oleh Admin
63x dilihat
Bagikan
Opening Humanity Festival & Aksi Reaksi
Foto bersama kegiatan Aceh Menolak Lupa

Semarang, Senin 18 Mei 2026 — Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (DEMA FUHUM) UIN Walisongo Semarang menggelar kegiatan Opening Humanity Festival & Aksi Reaksi di Aula Gedung Q UIN Walisongo Semarang. Kegiatan ini mengangkat talkshow bertajuk “Refleksi Aceh Menolak Lupa” dengan tema “Refleksi Bencana Banjir dalam Perspektif Ekoteologi dan Land Ethic.”

Acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian Humanity Festival yang akan berlangsung sejak Mei hingga September 2026. Kegiatan menghadirkan sejumlah pembicara, yakni Dr. Samidi Khalim, S.Ag., M.Si. selaku Kepala Bagian Tata Usaha FUHUM sekaligus Kepala Balai Litbang Agama Kemenag 2022–2024, Muhammad Irfan selaku Ketua DEMA FUAD UIN Sultanah Nahrasiyah Aceh, serta Rivaldi Hasan Amrulah dari Bidang Sosial Politik DEMA FUHUM UIN Walisongo. Jalannya diskusi dipandu oleh Rajwa Cetta Maheswari sebagai moderator.

Kegiatan dibuka dengan sambutan Wakil Dekan III FUHUM UIN Walisongo yang menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua DEMA FUAD Aceh di Semarang. Dalam sambutannya, ia berharap kehadiran tersebut mampu membawa energi baru serta memperkuat hubungan dan kerja sama antarmahasiswa lintas daerah.

“Semoga kedatangan Ketua DEMA FUAD dapat memberikan energi dan semangat baru bagi kami di Semarang serta memperkuat hubungan baik ke depannya,” ujarnya sekaligus membuka Humanity Festival secara resmi.

Selanjutnya, Ketua DEMA FUHUM UIN Walisongo, Yusril Isnain, menjelaskan bahwa Humanity Festival lahir dari kegelisahan terhadap kondisi mahasiswa yang mulai jauh dari realitas sosial masyarakat. Menurutnya, mahasiswa harus kembali menghidupkan nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

“Kegiatan ini berangkat dari realita sosial di mana mahasiswa hari ini mulai jauh dari masyarakat, padahal perguruan tinggi memiliki tiga tugas utama: pendidikan, penelitian, dan pengabdian,” tuturnya.

Memasuki sesi talkshow, Dr. Samidi Khalim, M.Si. memaparkan bencana banjir Aceh melalui perspektif ekoteologi. Ia menyebut bahwa bencana tersebut bukan hanya fenomena alam biasa, tetapi merupakan akibat dari “krisis ekologis dan kemanusiaan di Aceh” yang dipicu oleh ulah manusia sendiri terhadap lingkungan.

Menurutnya, ekspansi perkebunan sawit, alih fungsi lahan, aktivitas pertambangan, hingga sistem drainase yang tidak memperhatikan AMDAL menjadi penyebab utama kerusakan lingkungan di Aceh.

“Krisis ini lahir dari sawit, alih fungsi lahan, pertambangan, serta sistem drainase yang tidak memperhatikan AMDAL,” jelas Dr. Samidi.

Ia juga menegaskan bahwa alam dapat “bertindak” akibat perilaku manusia yang merusak keseimbangan lingkungan.

Selanjutnya, Muhammad Irfan selaku Ketua DEMA FUAD UIN Sultanah Nahrasiyah menjelaskan bahwa banjir Aceh bukan semata-mata bencana alam, melainkan bukti nyata krisis ekologi yang semakin serius. Ia menyampaikan bahwa banjir melanda 18 kabupaten di Aceh dan mengakibatkan kerusakan infrastruktur, gangguan ekonomi masyarakat, serta trauma sosial berkepanjangan.

Irfan juga menyoroti kondisi Rawa Tripa dan Rawa Singkil yang selama ini dikenal sebagai kawasan hutan terbesar di Aceh namun kini banyak dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit.

“Banjir ini bukan semata bencana alam, tetapi bukti nyata krisis ekologi yang semakin parah,” ungkapnya.

Dalam pemaparannya, Irfan turut menayangkan video dokumentasi mengenai kondisi masyarakat Aceh pascabencana. Video tersebut memperlihatkan secara langsung dampak banjir yang dirasakan warga, mulai dari rusaknya rumah dan fasilitas umum hingga aktivitas masyarakat yang masih terganggu sampai saat ini. Tayangan tersebut memperlihatkan sebagian warga masih tinggal di hunian sementara dan tenda pengungsian akibat belum optimalnya proses pemulihan pascabencana.

Ia juga menggambarkan kondisi anak-anak yang harus tetap menjalankan aktivitas sehari-hari di tengah keterbatasan.

“Banyak anak-anak pergi ke pasar dan sekolah dengan kondisi memprihatinkan. Bahkan menjelang Ramadan di Kecamatan Langkah, masyarakat kesulitan mendapatkan sarung, baju koko, hingga Al-Qur’an untuk kebutuhan ibadah,” tambahnya.

Dalam pemaparan berikutnya, Rivaldi Hasan Amrulah menjelaskan bahwa tema tersebut diangkat sebagai bentuk refleksi agar tragedi kemanusiaan di Aceh tidak dilupakan. Ia menyebut data BNPB yang mencatat sekitar 387 bencana terjadi dalam satu tahun di Indonesia dan sekitar 80 persen di antaranya merupakan banjir.

Menurut Rivaldi, Aceh menjadi provinsi kedua dengan frekuensi banjir tertinggi di Indonesia. Selain itu, sekitar 39.867 hektare kawasan terdampak deforestasi yang memperburuk situasi ekologis dan kemanusiaan di Aceh.

Diskusi juga membahas konsep land ethic yang dipopulerkan oleh Aldo Leopold. Dalam pembahasannya dijelaskan bahwa konsep tersebut menolak pandangan antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta.

Salah satu kutipan yang disampaikan berbunyi, “A thing is right when it tends to preserve the integrity, stability, and beauty of the biotic community; it is wrong when it tends otherwise.”

Pada sesi diskusi, peserta bernama Sabrina mempertanyakan lambatnya proses pemulihan Aceh dan kinerja pemerintah dalam menangani pascabencana. Pertanyaan tersebut dijawab langsung oleh Muhammad Irfan.

Menanggapi hal tersebut, Irfan menjelaskan bahwa proses pemulihan di Aceh banyak bergantung pada solidaritas warga dan inisiatif relawan. Sementara pembangunan hunian tetap dinilai belum merata dan sebagian wilayah terdampak masih terbengkalai.

“Pemerintah Aceh bekerja semampunya, tetapi koordinasi dari pemerintah pusat belum maksimal dan belum ada ketetapan yang benar-benar fokus pada pemulihan Aceh,” jelas Irfan.

Peserta kedua bernama Juang kemudian mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana pendekatan ekoteologi dapat mengubah pandangan masyarakat bahwa bencana hanyalah takdir semata. Pertanyaan tersebut dijawab oleh Rivaldi Hasan Amrulah.

Dalam jawabannya, Rivaldi menegaskan bahwa Al-Qur’an telah menjelaskan kerusakan di bumi terjadi akibat ulah manusia sendiri, bukan semata-mata takdir alam. Ia menilai paradigma masyarakat harus mulai berubah dari sekadar refleksi filosofis menuju tindakan nyata dalam menjaga lingkungan.

“Paradigma masyarakat harus berubah, tidak hanya berhenti pada refleksi filosofis, tetapi juga melahirkan tindakan nyata menjaga lingkungan,” ujar Rivaldi.

Dalam diskusi tersebut juga disinggung pemikiran Seyyed Hossein Nasr melalui esainya Man and Nature yang membahas hubungan manusia dengan alam semesta serta krisis spiritual dalam kerusakan lingkungan modern.

Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi refleksi bersama seluruh peserta. Dalam sesi tersebut, peserta diminta menuliskan harapan mereka untuk Indonesia saat ini pada sticky note yang telah disediakan panitia. Harapan-harapan tersebut berisi ajakan menjaga lingkungan, memperkuat kesadaran ekologis, meningkatkan kepedulian kemanusiaan, hingga dorongan agar pemerintah lebih serius dalam menangani krisis lingkungan dan bencana di Indonesia.

Melalui kegiatan Humanity Festival ini, DEMA FUHUM UIN Walisongo berharap munculnya kesadaran ekologis baru di kalangan mahasiswa dan masyarakat untuk memperjuangkan tata kelola lingkungan yang lebih baik, penegakan AMDAL, pembangunan berkelanjutan, serta kepedulian terhadap krisis kemanusiaan dan lingkungan di Aceh maupun daerah lainnya di Indonesia


Berita Terkait