DEMA FUHUM UIN Walisongo Hadiri Refleksi Tragedi Mei 1998 melalui Tradisi Rujak Pare dan Bunga Kecombrang di Pecinan Semarang

Tegaskan pentingnya peran generasi muda dalam memahami sejarah secara kritis.

Oleh Admin
13x dilihat
Bagikan
DEMA FUHUM UIN Walisongo Hadiri Refleksi Tragedi Mei 1998 melalui Tradisi Rujak Pare dan Bunga Kecombrang di Pecinan Semarang
Foto DEMA FUHUM Bersama Rasa Dharma & Peserta Kegiatan

 

SEMARANG — Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Humaniora (DEMA FUHUM) UIN Walisongo Semarang menghadiri kegiatan refleksi Tragedi Mei 1998 yang diselenggarakan oleh Perkumpulan Boen Hian Tong (Rasa Dharma) pada Sabtu, 23 Mei 2026, di Gedung Rasa Dharma, kawasan Pecinan, Kota Semarang.

Kegiatan tersebut menghadirkan tradisi rujak pare dengan sambal bunga kecombrang sebagai medium untuk merawat ingatan kolektif atas Tragedi Mei 1998, khususnya kekerasan dan diskriminasi yang dialami masyarakat Tionghoa serta kekerasan seksual terhadap perempuan. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa sejarah kelam tidak boleh dihapus dari ingatan publik, melainkan perlu dihadapi melalui refleksi dan upaya bersama untuk mencegah terulangnya kekerasan.

Rujak pare dan bunga kecombrang memiliki makna simbolis yang mendalam. Rasa pahit pare merepresentasikan kepahitan sejarah yang harus diakui dan dihadapi, sedangkan bunga kecombrang dimaknai sebagai simbol perempuan Tionghoa yang mengalami kekerasan dalam tragedi tersebut. Melalui sajian ini, masyarakat diajak untuk tidak berhenti pada pengenangan masa lalu, tetapi juga membangun kesadaran terhadap persoalan kemanusiaan yang masih relevan hingga hari ini.

Bagi DEMA FUHUM, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran sosial dan kebudayaan yang mempertemukan mahasiswa dengan ingatan sejarah yang hidup di tengah masyarakat. Pengalaman tersebut membuka perspektif bahwa kebudayaan tidak hanya hadir dalam bentuk kesenian, tradisi, dan warisan material, tetapi juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan pesan kemanusiaan, merekam pengalaman kolektif, serta menjaga kesadaran masyarakat terhadap peristiwa sejarah.

Refleksi ini juga menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam memahami sejarah secara kritis. Tragedi Mei 1998 tidak semestinya dipandang semata-mata sebagai peristiwa masa lalu, tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya melawan diskriminasi, merawat keberagaman, serta membangun ruang sosial yang aman dan setara bagi setiap orang.

Sebagai mahasiswa yang berada dalam lingkungan akademik Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, pengalaman ini relevan dengan upaya membangun kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan, keberagaman, dan kehidupan sosial. Pemahaman terhadap sejarah dan kebudayaan menjadi bagian penting dalam membentuk sikap kritis mahasiswa, sekaligus mendorong keterlibatan mereka dalam merawat nilai-nilai kemanusiaan di tengah masyarakat.

Melalui kegiatan ini, DEMA FUHUM menempatkan pengalaman kebudayaan sebagai salah satu pintu masuk untuk memahami sejarah, membangun empati, dan memperkuat kesadaran kolektif. Ingatan terhadap masa lalu bukan sekadar upaya mengenang luka, melainkan juga tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa diskriminasi dan kekerasan tidak kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.


Berita Terkait